Kisah nyata ini dialami oleh Nyoman Sukaryana (35) di akhir tahun 80-an silam. Saat itu salah seorang temannya di SMA dulu, sebut saja Muka, bertandang ke rumahnya di kampung. Ini adalah kunjungan pertamanya sejak mereka berteman. Hanya berbekal nama sang teman sahabat karib Sukaryana itupun menuju desa di bagian barat kabupaten Gianyar tersebut. Tanpa banyak bertanya dia pun akhirnya tiba di desa tersebut dengan selamat. Sesuai petunjuk Sukaryana sebelumnya ia meneruskan pencarian rumah sahabatnya. Kali ini tak mudah buat Muka. Lazimnya di sebuah desa jalan-jalan maupun gang-gang belum dinamai dan rumah-rumah belum bernomer seperti halnya di kota-kota. Maka I Muka memutuskan untuk bertanya kepada sekelompok bapak-bapak yang sedang bercengkerama di sebuah balai banjar, dekat tikungan jalan.
Muka mendekati seorang kakek-kakek yang kebetulan duduk paling di pinggir. “Pak, maaf saya mengganggu. Di mana ya rumahnya Nyoman Sukaryana?” tanyanya dalam bahasa Bali halus. Kakek-kakek yang rambutnya sudah beruban tersebut celingukan, bingung mesti menjawab apa. “Jantos jebos. Takenang tiang dumun” (tunggu sebentar saya tanya dulu). Kakek itu lalu mendekati kerumunan bapak-bapak di dekatnya yang sedang asyik dengan ayam jagonya masing-masing. “Eh, itu ada yang menanyakan rumah Nyoman Sukaryana. Nyen madan keto, nawang?(Siapa yang bernama demikian, ada yang kenal?)”. Beberapa lelaki muda di sana tampak cekikikan, menahan geli. Sang kakek heran, kenapa ada yang tertawa saat ia bertanya serius. Ia pun merasa tidak enak hati dengan orang yang sedang menunggu informasi darinya. “ Eh, pekak! Nyoman Sukaryana ento adan melah cucun pekak pedidi. I Nyoman Kajeng suba adane Nyoman Sukaryana dugas masuk pidan…(eh, kek. Nyoman Sukaryana itu nama bagus cucu kakek sendiri. Nyoman Kajeng lah yang bernama Nyoman Sukaryana waktu sekolah dulu…). Grrrrrrrrr. Semua yang hadir pun tak dapat menahan ketawa. Kakek yang ternyata kakek Nyoman Sukaryana hanya tersipu-sipu malu sambil menggaruk-garuk ubannya. I Muka pun sumringah karena akhirnya berhasil melacak rumah Nyoman Kajeng eh Nyoman Sukaryana.
Kejadian seperti ini sudah menjadi fenomena yang umum di Bali. Orang Bali tak hanya memiliki sebuah nama, namun bisa dua atau malah lebih nama. Ada nama resmi atau formal yang dipakai di sekolah atau kantor tempat bekerja dan ada nama akrab yang dipakai di rumah. Nama yang kedua lazim disebut parab. Di lingkungan rumah kadang nama yang resmi jarang yang tahu, paling hanya saudara kandung atau orang-tua yang bersangkutan. Orang-orang yang lebih tua dalam satu rumah jarang yang tahu siapa nama cucu-cucunya. Begitu juga kaum tetangga terdekat. Mereka paling banter tahunya hanya nama sapaan yang bersangkutan. Maka manakala ada orang dari luar desa yang datang menayakan sebuah alamat kebingungan seperti kejadian di atas sering terjadi. Di kalangan generasi muda Bali pun umumnya tumbuh nama-nama panggilan yang lain sesuai dengan karakter yang bersangkutan. Mereka mempunyai yang lain lagi untuk masing-masing temannya. Maka tak aneh bila terjadi komunikasi yang melibatkan dua individu dari generasi yang berbeda, kesalahpahaman manakala mengidentifikasi nama seseorang kerap terjadi.
Itu di kalangan anak muda, lain lagi ceritanya di kalangan orang tua Bali. Ketika seorang ayah sudah memiliki anak pertamanya maka dia pun akan menyandang nama baru sesuai dengan nama anaknya (istilahnya pungkusan). Misalnya ketika I Made Sudarma telah memiliki anak pertama yang bernama Luh Sukerni, maka ia pun otomatis akan dipanggil Pak atau Pan Sukerni. Sedangkan istrinya otomatis menjadi Ibu/Men Sukerni. Nama inilah yang juga dicatat dalam Buku Induk Desa Pakraman di mana ia menjadi krama. Nah, bagi para ayah-ayah baru yang baru saja berganti nama sebutan atau pungkusan sering menghadapi hal-hal yang menggelikan. Simak misalnya pengalaman Ketut Suarjana (31) warga desa pakraman Negari, Singapadu yang baru saja memiliki seorang anak lelaki. Alkisah pada saat usai tedun ngayah (kerja bakti) di suatu hari minggu maka Kelihan banjar pun meminta krama yang hadir untuk mendekat karena akan di dosen (diabsen dengan memanggil satu-persatu nama anggota krama). Krama pun sontak diam karena akan mendengarkan nama mereka disebut satu demi satu. Hanya beberapa orang yang berani ngobrol berbisik-bisik. Maka sang Kelihan mulai memanggil nama warga desa satu demi satu.” Nang Wijaya…Pak Ardika…Pan Leni…!” dan seterusnya. Setiap satu nama disebut dengan kencang maka yang bersangkutan menyahut dengan ‘Meriki (ke sini)’, artinya ia hadir ngayah saat itu. Kalau tidak ada yang menyahut berarti yang bersangkutan tidak hadir. Pada sutu saat sang Kelihan menyebut sebuah nama yang agak ‘aneh’ , “ Pak Fitriantini…!” Tak ada yang menjawab.
Sampai tiga kali diulang Kelihan menyebut belum juga ada yang menyahuti, akhirnya pak Kelihan yang berkaca-mata itu pun mencentang tanda nama tersebut di buku dedosan. Beberapa detik setelah itu saat kelihan sudah menyebut nama-nama berikutnya, Ketut Suarjana terkesiap kaget. Ia baru ingat kalau nama yang barusan disebut hingga tuga kali adalah nama pungkusannya. Fitriantini adalah nama puteri pertamanya yang baru enam bulan lahir. Setengah malu iapun senyum-senyum sendiri mengingat kealpaannya akan nama puterinya sendiri. Setelah semua nama warga disebut, Suarjana pun mendekati Pak kelihan untuk meminta dirinya tidak didosen karena ‘kurang perhatian’ saat nama barunya tadi disebut.
Nama bagi orang Bali pada akhirnya tidak hanya bermakna sebagai identitas semata, melainkan nama juga menunjukkan bagaimana seseorang diterima dalam kelompoknya. Bagaimana respon lingkungan terhadap keberadaannya.








sorry…blog nya macet. baru ketemu passwordne. maklum gatek. piye kabare ndi????
ikutan mbahmu…hehe