Tahun 2009 ini genap sembilan tahun saya menjalankan penelitian mandiri participation research dengan entitas yang bernama ‘desa adat’. Selama proses itu saya memposisikan segenap pengalaman saya berinteraksi dalam sistem desa adat sebagai bahan kajian guna menjawab pertanyaan besar ‘bagaimana lembaga keadatan memperlakukan warganya dalam sebuah kehidupan sosialnya di Bali dan bagaimana respon tradisi Bali ketika berjumpa dengan modernitas?’ Januari 2000 saya memulai hidup berinteraksi penuh dalam desa adat, setelah sebelumnya menghabiskan waktu 6 tahun belajar di Yogyakarta.
Selama proses itu, saya tidak hanya ‘menceburkan’ diri di desa adat saya di Gianyar, namun juga karena urusan pekerjaan saya berkesempatan bergelut dengan tema-tema desa adat secara intens – saya menjadi pekerja sosial di sebuah LSM, menjadi peneliti lokal sebuah riset pemberdayaan masyarakat adat yang dilakukan sebuah LSM besar di Yogyakarta, dan bekerja sebagai wartawan yang kebetulan mengupas masalah adat dan budaya Bali. Jadi, klop! Ditambah dengan riset tesis master saya yang berlokasi di sebuah desa pegunungan Bali Tengah. Singkat kata dalam sembilan tahun terakhir ini, hidup saya amat sangat lekat dengan tema-tema kedesa-adatan.
Tulisan singkat ini saya niatkan menjadi semacam catatan reflektif dari eksperimen participation research saya selama 9 tahun tersebut.
Saya akan mulai dengan sebuah cerita kecil yang saya alami 3 bulan lalu di Denpasar. Pada pertengahan bulan September 2009 saya bertemu kembali dengan seorang kawan lama, sebut saja namanya Adi. Adi yang asal Tabanan, teman dekat saya sewaktu kuliah di UGM. Hanya saja kami berbeda fakultas. Setamat kuliah Adi diterima menjadi dosen di almamaternya dan beroleh kesempatan menempuh studi S2 dan S3 di Australia. Pertemuan kami di Denpasar itu terjadi karena Adi ada acara seminar ilmiah di Nusa Dua. Ia memang cerdas dan telah menulis dua buah buku. Padahal usianya lebih muda 3 tahun dari saya. Setelah ngobrol tentang banyak hal selama 2 jam, saya mengangsurkan sebuah buku ilmiah populer tulisan saya yang baru terbit kepada Adi. Ia, sebagaimana kebiasaannya, cukup surprise menerima buku itu. Ada satu kalimat yang cukup menarik dilontarkan Adi ketika itu yang sampai saat ini masih kuat terekam dalam benak saya,’Bli, kalau ada orang Bali yang menjadi dosen di luar Bali lalu menulis buku itu hal yang biasa. Namun kalau ada orang Bali yang menjadi dosen terus bisa menulis sebuah buku itu hal yang luar biasa.’
Adi lalu menjelaskan maksudnya lebih detil.’Menjadi luar biasa, karena kita sama-sama tahu kesibukan sosial di bali yang begitu tinggi. Terlebih di tempat Bli, di Gianyar. Hampir tak ada hari tanpa suara kulkul dan mebat. Jadi cukup ajaib, bila ditengah kesibukan yang begitu padat Bli bisa membuat sebuah mahakarya seperti buku ini?’ Adi mengakhiri penjelasannya dengan menjabat tangan saya memberi selamat.
Saya tertegun cukup lama setelah kalimat Adi berlalu, bahkan berhari-hari setelah itu lontaran kandidat doktor Australia itu masih mengganggu dan menggelisahkan saya. Ada dua makna penting yang bisa saya tangkap dari lontaran Adi itu. Pertama, sistem sosial di Bali, dalam hal ini kehidupan desa adat, dianggap membelenggu proses intelektual kreatif seseorang yang berprofesi di jalur olah intelektual (dosen, guru, jurnalis, peneliti,dll). Dengan begitu padatnya kesibukan sosial keadatan telah menciptakan sebuah suasana di mana kreatifitas seseorang terpasung karena tidak bisa melakukan proses kreatifnya secara maksimal. Kedua, apabila asumsi pertama tadi benar, maka akan terjadi hipotesa berikut ini; generasi baru Bali yang ingin mengasah kemampuan kreatifitasnya secara maksimal akan memilih bermukim di luar komunitas desa adat (di luar Bali, atau di Kota Denpasar). Sebab hanya dengan begitu ia akan bisa berkreatifitas tanpa diganggu oleh kesibukan adat. Lantas pertanyaan berikutnya; bila hal ini benar-benar terjadi di lapangan maka tidakkah akan terjadi arus besar perginya orang-orang muda Bali berkualitas keluar dari desa adatnya demi sebuah alasan yang bernama; kebebasan berkreatifitas?
Saya belum sanggup meneruskan analisis saya terhadap hipotesis-hipotesis ini. Saya mencoba memverifikasi asumsi kawan saya Adi dengan kasus-kasus yang saya alami sendiri saat berinteraksi dalam desa adat maupun kasus-kasus yang saya dengar dari pengalaman kawan-kawan yang lain.
Kesibukan sosial keadatan di Bali, sebagaimana diketahui oleh banyak warga Bali, memang memiliki intensitas yang tinggi. Saya pernah menghitung, dalam siklus waktu enam bulan kalender Bali (210 hari) terdapat sekitar 70 hari (30 %) waktu saya tersita untuk mengikuti acara agama dan keadatan. Acara agama-keadatan itu antara lain; ngayah persiapan piodalan di pura Kahyangan banjar, sangkep (musyawarah desa adat), persiapan dan pelaksanaan upacara rahinan di pemujaan keluarga dan sangah dadia (keluarga besar), ngoopin (membantu persiapan upacara warga yang akan mengadakan upacara tertentu), kundangan (menghadiri uapacara adat famili atau rekan sejawat di luar desa adat), dan kegiatan-kegiatan insidentil lainnya.
Ilustrasinya adalah demikian; pada saat saya sedang menyelesaikan sebuah materi Power Point untuk keperluan mengajar, dan tiba-tiba harus menghadiri acara ngoopin (metulung) ke rumah warga yang lainnya, maka saya harus menunda pekerjaan saya tersebut untuk kemudian dicarikan waktu luang berikutnya. Problem terjadi manakala saya kembali duduk di depan lap top pada malam harinya sepulang ngoopin, misalnya. Saya harus kembali menyesuaikan ‘gelombang pikiran’ agar mau tune-in pada gelombang siang harinya. Dalam bahasa awam kepenulisan mungkin familiar disebut moody. Jadi, persoalannya bukan hanya pada waktu yang tersita untuk ngoopin, tapi yang lebih ribet adalah hilangnya mood karena harus beralih ke pola aktifitas lainnya, yang gelombangnya sama sekali berbeda. Ilustrasi saya ini mungkin bisa menjadi penguat hipotesis Adi, rekan saya.
Sebelumnya saya memandang kesibukan di desa adat sebagai sebuah kewajiban biasa yang sifatnya given. Sudah demikian adanya, tanpa perlu dipertanyakan lagi. Sikap standard yang juga dimiliki oleh ribuan generasi baru Bali yang sejaman dengan saya dalam merespon sesuatu yang telah dijalankan sejak lama, bahkan sejak lahir.
Selama ini, saya pribadi menjadikan berbagai acara sosial keadatan tersebut sebagai media untuk menjalin relasi sosial dengan warga adat lainnya. Setelah sibuk dengan berbagai aktifitas individual maka kegiatan di adapt bisa menjadi ajang merekatkan kembali kohesi sosial; tempat di mana saya bisa saling bertukar cerita dengan teman-teman lainnya satu kampung. Sikap inilah yang menurut saya sikap paling moderat yang bisa saya ambil, tinimbang, misalnya migrasi ke tempat lainnya yang memiliki intensitas keadatan yang lebih longgar.
Namun dalam kaca mata Adi, rekan saya yang dosen UGM itu, sesuatu yang telah lazim itu dikritisi ulang dan dilihat dari kaca mata berbeda (di rekonstruksi). Sebagai orang Bali yang telah membuat jarak dengan Bali, Adi berkesempatan mengembangkan wawasannya terhadap tradisi Bali yang melahirkannya. Dan itu tentu sah-sah saja. Bagi sebagian kalangan yang sangat membela tradisi, pandangan Adi mungkin ditangkap sebagai sikap yang arogan, tidak mau bersosialisai, dan menentang tradisi. Bagi mereka tradisi yang dianut oleh desa adat merupakan sesuatu yang keramat, sehingga tidak memberi ruang dialog untuk perubahan. Padahal dalam perspektif yang lain tradisi bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Ia adalah produk manusia yang hidup di bumi, sehingga harus terus-menerus dikritisi sesuai dengan perkembangan jaman. Kecuali ia ingin ditinggalkan oleh penganut tradisi itu sendiri.
Saya teringat lagi dengan sebuah metapora lain yang disampaikan seorang Antropolog Gadjah Mada, Pande Made Kutanegara, ’Masyarakat Bali itu ibarat kerumunan semut rangrang yang berbaris rapi yang tengah dinikmati oleh seorang ahli Zoologi. Sang ahli demikian terpesona dengan fenomena keteraturan barisan semut rangrang; padahal dalam dunia internalnya sendiri masyarakat semut rangrang tersebut tengah berkonflik satu sama lainnya, memerebutkan daerah otoritas dan pengaruh. Ahli Zoologi adalah para wisatawan yang terpesona dengan tradisi kehidupan manusia Bali, namun emoh untuk menjadi manusia Bali yang sesungguhnya.’
Bali memang menyimpan sejuta paradoks, di satu sisi ia dikagumi para pelancong dari seluruh dunia karena kekhasan tradisi yang dimilikinya. Namun pada sisi yang lain, tradisi yang telah diwarisi turun-temurun itu juga ditenggarai telah membelenggu kebebasan berkreatifitas dari warganya sendiri dalam mengarungi kehidupan barunya. Dengan kata lain hingga detik ini Bali masih kikuk beradaptasi manakala bertatap muka dengan modernitas. Dan saya kian masygul jika diminta berkomentar soal Bali dan tradisinya.
(dimuat di Sarad bulan Agustus 2009)








ingetlah..masa lupa…di man sekarang??