ABAD 18, I Rempeng lelaki asal Klungkung dipaksa pergi ke luar Bali bahkan hingga ke dura Nusantara karena dijual sebagai pekerja budak oleh Raja kala itu. Raja mendapatkan pajak dari kebijakannya menjual panjaknya(rakyat/hamba) sebagai tenaga kerja upahan di negeri orang. Tidak hanya I Rempeng, bahkan ratusan rakyat Bali kala itu dijual sebagai budak belian ke berbagai negara; China, Champa, Malaya, Siam, dan sebagainya.
Dua abad kemudian, di akhir abad 20 hingga awal abad 21, tepatnya di tahun 1990-an, Putu Gede Sucita (26), anak muda asal Marga, Tabanan, atas jasa sebuah perusahaan agen kapal pesiar di Denpasar pergi berlayar menjadi tenaga bartender pada sebuah kapal pesiar mewah di kawasan benua Eropa. Saat ini tidak ada raja atau penguasa yang memaksa atau menjualnya. Ia pergi atas kesadarannya sendiri. Berangkat dari keinginan wajar untuk meraup pendapatan jauh lebih banyak dari yang bisa diraihnya di tanah kelahirannya, Bali. Sebuah status baru yang melambungkan namanya pun digenggamnya kini ; bekerja di kapal pesiar.
Dua peristiwa yang hampir mirip, meski dengan setting dan motivasi yang berbeda. Adakah ini semacam lompatan sejarah atau hanya sekedar pengulangan sejarah?
Kecenderungan anak muda Bali bekerja ke luar negeri, baik di kapal pesiar maupun di daratan benua Amerika atau Eropa memang menunjukkan peningkatan jumlah yang tajam, terlebih setelah dunia pariwisata Bali dihantam badai Bom Bali. Puluhan hotel, restoran, dan jasa-jasa pariwisata terancam bangkrut dan terpaksa melakukan penciutan tenaga kerja hingga pemutusan hubungan kerja (PHK). Jauh sebelum badai krisis di atas angka pengiriman tenaga kerja sebagai tenaga kapal pesiar pun sudah cukup tinggi sebetulnya.
Beragam memang alasan yang dimiliki seseorang ketika memilih bekerja di luar negeri. Salah-satunya adalah tergiur oleh tinginya upah atau gaji yang bakalan diterima. Dengan harga dolar yang demikian mahal ketika dikonversi ke rupiah (per Juli 2003, sekitar Rp. 8700) membuat upah yang diterima dengan bekerja di luar negeri menjadi berlipat-lipat.
Pengalaman Kadek Sus (32), misalnya, pemuda asal Ubud yang telah bekerja selama dua tahun di New York, AS, ini mengaku mendapatkan pendapatan yang jauh lebih besar dari di Bali setelah bekerja di sebuah restoran Cina di Kota New York. “Gaji saya sebulan US $1200 (sekitar 10 juta lebih). Di Bali mana bisa segede itu!” bangga Sus menceritakan perjuangannya. Gaji sebesar itu pun diraih tanpa kerja terlalu lama dalam sehari. Rata-rata teruna berbadan kurus tersebut hanya bekerja 4-6 jam.
Alasan lainnya, tentunya untuk mencari pengalaman atau menambah pengetahuan. Dengan bekerja ke luar negeri mereka mengharapkan mempunyai wawasan yang lebih luas, kelak ketika sudah pulang kembali ke Bali.
Namun selain cerita indah di atas tak sedikit anak muda yang bekerja ke luar negeri di belakang hari berbuah duka nestapa. Ada yang pulang hanya dengan tangan hampa karena tidak bisa menghemat uang gaji yang diperoleh selama bekerja. Ada pula yang sepulang ke Bali tiba-tiba berubah mempunyai kebiasaan baru, seperti menenggak obat atau gemar mabuk-mabukan. Made Adi Putra (bukan nama sebenarnya) misalnya, teruna lulusan sebuah sekolah tinggi pariwisata di Bali, menjadi pemuda yang doyan menengkonsumsi sabu-sabu dan mabuk-mabukan sepulang dari berlayar. Menurut salah seorang rekannya, ini pengaruh yang didapatnya ketika berlayar, “Mentalnya ndak kuat, ia menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli ‘obat-obatan’..” kisah sang teman, nelangsa.
Kurangnya persiapan individual maupun lemahnya seleksi yang diterapkan lembaga pengirim tenaga kerja ke luar negeri agaknya menjadi pemicu kasus-kasus serupa bisa terjadi. Sering terjadi orang yang dikirim hanya memenuhi syarat mampu secara finansial, namun lemah dalam hal kualitas. Padahal orang yang dikirim ke luar negeri semestinya orang yang berkualitas, baik moral, mental, maupun pengetahuan bahasa dan budaya Balinya. Anak muda Bali yang bekerja ke luar negeri bukan semata-mata hanya menjadi tenaga kerja penghasil dolar, melainkan juga seorang duta bangsa dan Bali khususnya.







